Jumat, 11 Desember 2009

Makalah Fungi dan Cendawan

BAB I
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Fungi atau cendawan adalah organisme heterotrofik. Mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut, mereka disebut sporofit. Fungi memiliki berbagai macam penampilan tertgantung pada spesiesnya (Pelczar, 1986).
Dalam Campbell (2003), Fungi adalah eukariota, dan sebagian besar adalah eukariota multiseluler. Meskipun fungi pernah dikelompokkan ke dalam kingdom tumbuhan, fungi adalah organisme unik yang umumnya berbeda dari eukariota lainnya ditinjau dari cara memperoleh makanan, organisasi struktural serta pertumbuhan dan reproduksi.
Jamur sering dianggap sebagai organisme yang tergolong dalam tumbuhan, tetapi adapula yang menganggap jamur sebagai golongan organisme yang terpisah dari tumbuhan. Dengan demikian terdapat pula perbedaan dalam klasifikasinya, tetapi perbedaan tadi terletak pada taksa yang lebih tinggi dari kelas, sedangkan taksa dari kelas kebawah tidak terdapat perbedaan.


1.2 Rumusan Masalah
Rumusan dari makalah ini adalah:

  1. Bagaimana karakteristik kehidupan pada fungi ?


  2. Bagaimana sistem reproduksi pada fungi ?


  3. Bagaimana sistem pengklasifikasian pada fungi ?



1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui karakteristik kehidupan pada fungi.


  2. Untuk mengetahui sistem reproduksi pada fungi ?


  3. Untuk mengetahui sistem pengklasifikasian pada fungi ?





BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Cara Hidup Fungi
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri. Kesulitan dalam mengenal fungi sedikit banyak disebabkan adanya pergiliran keturunan yang memiliki penampilan yang sama sekali berbeda (ingat metamorfosis pada serangga atau katak) (Anonimous, 2008).
Fungi adalah eukariota, dan sebagian besar adalah eukariota multiseluler. Meskipun fungi pernah dikelompakkan ke dalam kingdom tumbuhan, fungi adalah organisme unik yang umumnya berbeda dari eukariota lainnya ditinjau dari cara memperoleh makanan, organisasi stuktural, serta pertumbuhan dan reproduksi Campbell (2003). Fungi atau cendawan terdiri dari kapan dan khamir. Kapang bersifat filamentus, sedangkan khamir biasanya bersifat uniseluler (Pelczar, 1986).














Gmabar 1. Kapang Pilobolustumbuh Gambar 2. Kapang Rhizopus tumbuh pada kotoran hewan pada roti


Fungi adalah heterotrof yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan (absorpsi). Dalam cara ini, fungi akan mencerna makanan diluar tubuhnya dengan cara mensekresikan enzim-enzim hidrolitik yang sangat ampuh kedalam makanan tersebut. Enzim-enzim itu akan menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana yang dapat diserap dan digunakan oleh fungi Campbell (2003).
Fungi dapat hidup dari benda organik mati yang terlarut , yang disebut dengan saprofit. Saprofit menghancurkan sisa-sisa ttumbuhan dan hewan yang kompleks dan menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yang kemudian dikembalikan ke dalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburan (Pelczar, 1986). Makanan fungi dapat berasal dari sumber-sumber seperti tanah subur, produk makanan yang dibuat oleh pabrik, dan tubuh hewan dan tumbuhan (baik yang mati maupun yang hidup) (kimball, 1999).
Fungi parasitik menyerap zat-zat makanan dari inang yang masih hidup. Beberapa jenis fungi misalnya seperti spesies tertentu yan menginfeksi paru-paru manusia, bersifat patogenik (2003). Disamping itu Funfi juga hidup dalam bentuk dismorfisme yaitu fungi dapat ada dalam bentuk uniseluler (Khamir) dan bentuk benang/filamen (Kapang). Fase khamir timbul bila organisme itu sebagai parasit atau patogen dalam jaringan sedangkan bentuk kapang jika organisme itu merupakan saprofit dalam tanah atau dalam medium laboratorium (Pelczar, 1986).
Manfaat dari adanya fungi adalah pada fungi yang hidup sebagai saprofit dapat membantu proses pengambilan mineral dari tanah bagi inangnya, disamping itu fungi saprofit juga penting dala fermentasi industri, misalnya pembuatan anggur, bir, dan produksi antibiotik seperti penisilin. Peragian adonan dan pemesakan beberapa keju juga bergantung pada kegiatan cendawan (Pelczar, 1986).
Selain sifat yang menguntungkan, fungi juga memiliki sifat yang merugikan, fungi dapat membusukkan kayu, tekstil, makanan dan lain-lain. Disamping itu fungi juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan, salah satu contoh cendawan patogen adalah Histoplasma capsulacum yang menyebabkan histoplomosis (infeksi mikosis pada sistem retikuloendotelium yang meliputi banyak organ) (Pelczar, 1986).


2.2 Habitat Fungi
Fungi menempati lingkungan yang sangat beragam yang berasosiasi secara simbiotik dengan banyak organisme. Meskipun paling sering ditemukan pada habitat darat, fungi juga hiudp dilingkungan akuatik, dimana fungi tersebut berasosiasi dengan organisme laut dan air tawar serta bangkainya. Lichen, perpaduan antara fungi dan alga, banyak terdapat dimana-mana dan ditemukan pada beberapa tempat yang tidak bersahabat sepeti gurun yang dingin dan kering di Antartika, tundra alpin dan artik. Fungi simbiotik lainnya hidup dalam jaringan tumbuhan yang sehat dan spesies lain membentuk mutualisme-mutualisme pengkomsumsi selulosa dengan serangga, semut dan rayap (Campbell 2003).
Golongan Fungi yang termasuk hidup dalam air adalah oomycota dan chytridiomycota, sedangkan golongan fungi yang hidup di darat (tanah) misalnya, Mucorales, Ascomycota, deuteremycetes dan beberapa Peronosporales (Gunawan, dkk, 2004).


2.3 Kateristik Morfologi dan Fisiologi Fungi
Sebagian besar fungi adalah organisem multiseluler dengan hifa yang dibagi menjadi sel-sel oleh dinding yang bersilangan atau septa. Disamping itu juga terdapat fungi asepta, yaitu hifanya tidak dibagi sel-selnya oleh septum.
Hifa adalah benang halus yang merupakan bagian dari dinding tubuler yang mengelilingi membran plasma dan sitoplasma. Jamur sederhana berupa sel tunggal atau benang-banang hifa saja.Jamur bertingkat tinggi terdiri dari anyaman hifa yang disebut posenim atau pseudoparenkim.Prosenkim adalah jalinan hifa yang kendor dan pseudoparenkimadalah anyaman hifa yang lebih padat dan seragam.Sering terdapat anyaman hifa yang padat dan berguna untuk mengatasi kondisi buruk yaitu rhizomorfatau sklerotium.Ada pula yang disebut stroma yaitu jalinan hifa yang padat dan berfungsi sabagai bantalan tempat tumbuhnya bermacam-macam bagian lainnya (Sasmitamihardja dkk,1990).

Gambar 3. Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah


Pada khamir ukurannya sangat beragam 1 sampai 5 µm lebarnya dan panjangnya 5 sampai 10 µm atau lebih. Bisanya berbentuk bulat telur, tetapi ada yang memanjang atau berbentuk bola dan khamir tidak dilengkapi dengan flagelum sebagai alat bergerak. Sedangkan kapang, tubuh atau talusnya terdiri dari 2 bagian yaitu: miselium dan spora.
Jalinan masa hifa disebut miselium dan hifa dapat berada dalam bentuk menjalar atau menegak, biasanya menghasilan alat-alat pembiakan yaitu spora Septa pada umumnya memiliki pori yang sangat besar agar ribosom dan mitokondria dan bahkan nukleus dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lain. Miselium fungi tumbuh dengan cepat, bertambah satu kilometer setiap hari. Fungi merupakan organisme yang tidak bergerak, akan tetapi miselium mengatasi ketidakmampuan bergerak itu dengan menjulurkan ujung-ujung hifanya denagan cepat ke tempat yang baru ( Campbell, 2003).
Sebagian besar fungi membentuk dinding selnya terutama dari kitin, suatu polisakarida yang mengandung pigemen-pigmen yang kuat namun fleksibel dan pautan di antara gula-gula seperti yang terdapat pada selulosa dan peptidoglikan (kimball, 1999).
Fungi dapat lebih bertahan dalam keadaan alam sekitar yang tidak menguntungkan. Sebagai contoh, khamir dan kapang dapat tumbuh dalam suatu substrat atau medium berisikan konsentrasi gula yang dapat menghambat pertumbuhan kebanyakan bakteri. Khamir merupakan mikroorganisme fakultatif, artinya mereka dapat hidup dalam keadaan aerobik maupun anaerobik (Pelczar, 1986).
Fungi dapat tumbuh dalam kisaran suhu yang luas, dengan suhu optimum bagi kebanyakan spesies saprofitik dari 22 sampai 300C, spesies patogenik mempunyai suhu ptimum lebih tinggi, biasanya 30 sampai 37 0 C. Pada cendawan akan tumbuh pada atau mendekati 0° C (Pelczar, 1986).


2.4 Reproduksi Fungi
Spora fungi memiliki berbagai bentuk dan ukuran, dan dapat dihasilkan secara seksual maupun aseksual. Pada umumnya spora adalah organisme uniseluler , tetapi ada juga spora multiseluler. Spora dihasilkan di dalam atau dari struktur hifa yang terspesalisasi. Ketika kondisi lingkngan memungkinkan, pertumbuhan yang cepat, fungi mengklon diri mereka sendiri dengan cara menghasilkan banyak sekal spora secara aseksual. Terbawa oleh angin atau air, spora-spora tersebut berkecamabh jika berada pada tempat yang lembab pada permukaan yang sesuai (Campbell 2003).
Menurut Pelczar (1986), bahwa spora seksual yang dihasilkan dari peleburan dua nukleus. Ada beberapa spora seksual yaitu:

  1. Aksospora: Spora bersel satu ini terbentuk di dalam pundi atau kantung yang dinamakan askus. Biasanya terdapat delapan askospora di dalam setiap askus.


  2. Basidiospora: Spora bersel satu ini terbentuk di atas struktur berbentuk gada yang dinamakan basidium.


  3. Zigospora: merupakan spora besar berdinding tebal yang terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi, disebut juga gametangin, pada beberapa cendawan melebur.


  4. Oospora: Spora ini terbentuk di dalam struktur betina khusus yang disebut ooginium, pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan yang terbentuk di dalam anteredium mengasilkan oospora.


Gambar 4. Siklus Hidup Cendawan







    1. Klasifikasi Fungi

Klasifikasi fungi terutama berdasakan pada cirri-ciri spora seksual dan tubuh buah yang ada selama tahap-tahap seksual dalam daur hidupnya. Cendawan yang diketahui tingkat seksualnya disbut cendawan perfek/sempurna. Cendawan yang dbelum diktahui tingkat seksualnya dinamakan cendawan imperfek. Berdasarkan pada cara dan cirri reproduksinya terdapat empat kelas cendawan sejati atau berfilamen di dalam dunia Fungi yaitu: Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes (Pelczar, 1986).
Phycomycetes
Anggota kelas ini seringkali disebut sebagai cendawan tingkat rendah. Ciri yang umum pada spesies ini adalah tidak adanya septum di dalam hifa yang membedakan dengan tiga anggota yang lain. Phycomycetes mempunyai talus miselium yang berkembang dengan baik. Hifa fertile menghasikan sporangium pada ujung sporangiospora. Pada talus Rhizopus, disamping hifa vegetatif dan sporangium terdapat juga hifa seperti hifa pendek dan bercabang banyak yang disebut rizoid (Pelczar, 1986).


Ascomycetes
Ascomycetes menghasilkan dua macam spora, yang terbentuk secara aseksual disebut konidiam, berkembang di dalam rantai ujung hifa. Macam spora ke dua dihasilkan sebagai akibat reproduksi seksual. Empat atau delapan spora ini disebut askospora, terbentuk di dalam askus berupa kantung (kimball, 1999).
Kebanyakan hidup sebagai saprofit. Banyak khamir termasuk kelas Ascomycetes karena membentuk askospora. Secara aseksual, genus khamir Schizosaccharomyces ini memperbanyak diri dengan pembelahan diri melintang (Pelczar, 1986).


Basidiomycetes
Basidiomycetes merupakan pengurai penting bagi kayu dan bagian tumbuhan yang lainnya. Kelompok ini dicirikan oleh adanya basidiospora yang terbentuk di luar pada ujung atau sisi basidium. Basidiomycetes yang banyak dikenal meliputi jamur, cendawan papan pada pepohonan, dan cendawan karat serta cendawan gosong yang menghancurkan serealia. Jamur adalah tubuh buah, atau Basidiokarp yang mengandung basidia bersama basidiosporanya (Pelczar, 1986).


Deuteromycetes
Kelas ini meliputi cendawan yang tingkat reproduksinya imperfek. Sebagian besar cendawan yang patogenik pada manusia adalah Deuteromycetes. Mereka seringkali membentuk spora aseksual beberapa macam di dalam spesies yang sama. Di samping fase saprofitik yang berbentuk miselium, banyak di antaranya parasitik seperti khamir. Salah satu spesies yang patogen adalah Histoplasma capsulatum (Pelczar, 1986).










































BAB III
KESIMPULAN


Fungi merupakan mikroorganisme eukariota yang sebagian besar bersifat multiseluler. Fungi atau cendawan terdiri dari kapang dan khamir. Secara umum Fungi hidup dengan 3 cara yaitu sebagi saprofit, parasitik dan diomorfis. Fungi adalah heterotrof yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan (absorpsi).
Fungi menempati lingkungan yang sangat beragam yang berasosiasi secara simbiotik dengan banyak organisme baik di darat maupun di air. Sebagian besar fungi adalah organisem multiseluler dengan hifa yang dibagi menjadi sel-sel oleh dinding yang bersilangan atau septa. Dinding sel pada fungi dilindungi oleh Selulosa dan Kitin (polisakarida yang mengandung unsur N). Fungi dapat berkembang biak dengan dua cara yaitu cara seksual dan aseksual.
Berdasarkan pada cara dan cirri reproduksinya terdapat empat kelas cendawan sejati atau berfilamen di dalam dunia Funi yaitu: Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes.

BAB I
Daftar Pustaka


Anonimous. 2008. Fungi. http://www.id.wikipedia.co.id. Akses 25 Oktober 2008


Campbell, dkk. 2003. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga


Sasmitamihardja, Drajad, dkk. 1990. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan. Bandung: FMIPA ITB


Kimball, John W. 1999. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga
Pelczar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press. Hal: 131
Gunawan, Agustin Wydia, dkk. 2004. Cendawan dalam Praktek Laboratorium. Bogor: IPB-Press






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar